
Saya aktif berselancar ke internet ini, karena disarankan oleh saudara saya yang sebelumnya sudah duluan aktif di media ini. Kenapa disarankan aktif di berbagai media online? Karena menurut dia, di media online, sangat banyak tulisan-tulisan atau penulis-penulis hebat, pintar dan berkualitas. Sehingga kalau ikut aktif di sini, kata dia, bermanfaat sekali untuk menambah wawasan.
Setelah beberapa hari bergabung, saya mulai menulis, lalu membaca tulisan-tulisan dari blog, media dan website yang memuat berbagai opini dan artikel. Dalam beberapa hari, saya mulai menemukan memang sangat banyak tulisan-tulisan berkualitas. Bahkan tulisan yang bertajuk guyon atau humor pun terlihat memiliki kualitas. Hal itu terasa dari pesan dan makna yang terkandung di dalam tulisan guyon itu.
Akhirnya saya pun sependapat dengan saudara saya tersebut. Ternyata memang banyak tulisan berkualitas di media online ini, dan memang bermanfaat sekali untuk menambah wawasan.
Nah, kalau banyak tulisan berkualitas, logikanya ya pasti banyak penulis-penulis yang berkualitas dong?. Tulisan yang berkualitas, pasti ditulis oleh orang-orang atau oleh para penulis yang berkualitas pula. Penulis-penulis yang berkualitas, selayaknya saya anggap sebagai orang yang hebat, pintar dan banyak ilmu. Walaupun sehebat apapun manusia, pasti ia selalu merasa masih kurang, masih belajar dan ingin lebih baik lagi.
Namun saya berkesimpulan kalau penulis yang aktif menulis dan sering menyajikan tulisan berkualitas tersebut, sudah tergolong orang pintar, orang hebat, atau orang yang berkualitas di tengah-tengah masyarakat yang jumlah penduduknya termasuk 4 besar di dunia.
Artinya, dari sekitar 240 penduduk di negeri ini, mungkin saat ini masih kecil sekali persentase dari masyarakat yang bisa mengamati, menganalisa, dan merangkai kata menjadi sebuah tulisan yang menarik, bermanfaat dan berkualitas. Mungkin belum banyak dari mereka yang mengerti menggunakan internet. Bahkan, mungkin masih banyak saudara-saudara kita yang masih buta huruf, berada dalam lingkaran kebodohan, dan masih berkutat dengan kemiskinan yang ia hadapi dalam kehidupannya sehari-hari.
Tapi anehnya, setelah membaca berbagai tulisan-tulisan dan komentar-komentar yang ada di berbagai media, terlihat orang-orang hebat, pintar dan berkualitas itu, banyak yang mengaku dirinya "bodoh" atau awam. Hal itu terlihat dari pengakuan-pengakuan yang ia selipkan di dalam tulisannya. Padahal gelar akademis mereka yang kadang mengaku bodoh itu, sudah seabrek-abrek.
Nah, kalau orang-orang atau para penulis yang sudah pintar menganalisa, pintar mengamati, pintar memberi nasehat, dan sudah pintar menulis di media online ini saja mengaku dirinya masih bodoh atau masih awam, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang masih belum mengerti internet?Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang belum bisa mengakses internet? Dan bagaimana dengan saudara-saudara kita yang masih buta huruf?
Kalau semuanya masih selalu mengaku bodoh dan awam, lalu siapa yang pintar? Kemana dan dimana ya mencari orang yang hebat, pintar, dan berkualitas di negeri ini? Yang bisa diandalkan sebagai pencerah dan penyambung suara rakyat atau saudara-saudara kita yang masih berada dalam kondisi serba terbatas?
Jangan-jangan karena banyak masyarakat yang mengaku-aku dirinya bodoh, makanya oknum pejabat atau koruptor makin merajalela, percaya diri dan merasa aman untuk berbuat seenaknya perutnya saja membohongi masyarakat dalam mencuri uang negara yang merupakan uang rakyat di negeri ini?
Mungkin koruptor itu beranggapan seperti ini: "Masyarakat golongan menengah keatas yang sudah melek informasi dan melek teknologi saja masih bodoh dan masih gampang dibohongi, yang mana hal itu terlihat dari pengakuannya, maka sudah pasti masyarakat golongan lainnya otomatis lebih bodoh dan lebih gampang dibohongi menurut koruptor tersebut." Maka dari itu, mungkin akhirnya para koruptor di negeri ini merasa aman saja untuk selalu korupsi.
Atau jangan-jangan kita semua memang masih bodoh dan masih gampang dibodohi? Terutama oleh koruptor?
Ilustrasi gambar dari: ugm.ac.id






