Merakyat.Com

loginregisterforum

Sikap Prihatin yang Ternyata Salah Alamat

Email Cetak PDF
+ 0
+ 0

Kadang hidup ini memang lucu. Bagaimana tak lucu, beberapa minggu ini saya sedang prihatin dan turut sedih akan nasib seorang kenalan yang sedang dirundung masalah. Yang mana menurut saya, dan mungkin juga menurut orang lain masalahnya itu lumayan berat. Malah masalahnya itu, terlihat makin disorot oleh orang banyak, dan sudah menjadi buah bibir di mana-mana.

Sebelumnya saya memang tidak terlalu mencampuri atau tidak mengetahui kehidupan pribadi atau urusannya di luar, namun dahulu sebelum ia dirundung masalah tersebut, sebagai teman atau kenalan, kami suka bercanda ketika bertemu atau saat komunikasi.

Maka semenjak saya mendengar kabar tentang masalah yang dihadapinya, saya pun tidak berani lagi bercanda dan jadi merasa canggung, kikuk, serta merasa serba salah untuk berbicara, komunikasi, dan bercanda seperti dahulu lagi. Bukannya saya mau menjauh ketika kenalan atau sahabat lagi sedang ada masalah. Namun rasa canggung dan rasa serba salah itu muncul karena, takutnya ia merasa malu kepada saya kalau ia sudah bikin masalah yang menurut saya cukup memalukan tersebut.

Dan pasti ia juga menduga atau merasa kalau sebelumnya saya tidak akan pernah menyangka sedikit pun kalau ia akan berbuat memalukan seperti itu. Oleh karena itu, daripada ia merasa canggung dan kikuk ketika kalau sering-sering saya hubungi, maka untuk sementara saya batasi saja komunikasi dengan Dia, sampai masalahnya itu selesai dan jelas semuanya.Dan saya sebagai teman cuma bisa berharap, semoga ia sabar dan tabah, serta diberikan jalan yang terbaik dalam menghadapi masalahnya tersebut.

Yang bikin saya kaget, beberapa hari yang lalu ia mengajak saya ketemu mau diskusi di sebuah cafe di mal. Saya agak kaget dengan ajakannya tersebut, soalnya setahu saya, kan Dia lagi ada masalah. Dalam hati saya membatin, jangan-jangan ia mau membicarakan soal masalah yang ia hadapi tersebut. Atau mungkin ia mau membicarakan tentang kemungkinan solusi dari masalahnya tersebut. Dan saya menduga-duga, pasti hal itu sangat rumit.

Aneh dan lucunya, saat ketemu, ternyata ia terlihat santai, cerah dan terlihat ceria seperti biasa. Malah saya jadi heran dan balik bertanya. Bukannya kamu lagi sedih dan sedang ada masalah? Tapi kok kelihatannya raut wajah dan sikapmu santai-santai saja? Kok kelihatannya kamu seperti tidak ada masalah? Bagaimana sih yang sebenarnya?

Ia malah tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan saya tersebut. Dan ia menjelaskan ke saya kalau masalah yang ia hadapi tersebut, tidaklah parah seperti apa yang didengar dari orang-orang. Malah ia merasa itu cuma masalah kecil dan sepele yang sebentar lagi juga selesai. Dan saya pun jadi makin bingung dan makin heran dengan jawabannya tersebut.

Kadang Dunia ini memang seperti panggung sandiwara ya? Yang mana, kadang kita ribut-ribut membicarakan dan memikirkan nasib seseorang yang terlihat sedang ada masalah. Namun ternyata orang yang kita cemaskan tersebut, malah merasa tidak ada masalah dengan dirinya. Karena pastinya Dia yang lebih tahu akan masalah yang dihadapinya dibanding orang-orang yang melihat dan mengamati dari luar. Hehehe

Tags: peduli | prihatin | salahkaprah | sikap

Sikap Prihatin yang Ternyata Salah Alamat
Berhubungan Dengan :
Kebetulan sebentar lagi (2012) mau Pilkada Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, maka saya sebagai salah seorang warga DKI,
Pemberdayaan wanita memiliki bidang garapan yang luas. Salah satu bidang yang menarik untuk dibahas adalah pemberdayaan ekono
 Dalam menyusunan perencanaan pembangunan selain memperhatikan potensi sumber daya alam, daya dukung alam dan daya tampung l

Add comment


Security code
Refresh