Merakyat.Com

loginregisterforum

Sekelumit Kisah Bisa Berwirausaha Tanpa Modal Uang

Email Cetak PDF
+ 3
+ 0

Ilustrasi

Saya jadi teringat lagi masa-masa kuliah dulu, gara-gara tadi sore lumayan lama nongkrong di kantin mahasiswa untuk menunggu seorang teman yang sedang mengajar. Bahkan saya sempat terlibat diskusi dan bercanda-ria dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang kebetulan juga nongkrong di kantin tersebut. Ketika saya perhatikan gaya berpakaian, peralatan yang mereka genggam dan kunci kendaraan yang tergeletak di meja kantin, kelihatannya mahasiswa tersebut rata-rata berasal dari keluarga ekonomi menengah ke atas, walaupun mungkin tidak semua.

Gambaran diatas berbeda jauh dengan kondisi saya saat kuliah dulu. Semenjak semester tiga, saya jarang sekali bisa nongkrong berlama-lama di kampus tempat kuliah saya dulu, kecuali kalau lagi menunggu jam kuliah berikutnya. Jadi kalau mata kuliah sudah selesai, saya harus segera cabut dari kampus, kadang mampir dulu di kos-kosan lalu jalan-jalan (sering jalan kaki, karena tidak punya kendaraan) kesana-kemari untuk sebuah urusan.

Urusan apakah itu?

Karena selama kuliah di semester satu dan semester dua saya merasa sangat membebani keuangan keluarga dan saudara-saudara dalam menutupi kebutuhan kuliah, biaya hidup dan sewa kos, maka saya mencoba putar otak untuk bisa mencari uang sendiri disela-sela kesibukan kuliah. Sempat saya mencoba mencari kerja yang waktu kerjanya fleksibel agar tidak mengganggu kuliah, namun susahnya minta ampun. Akhirnya saya coba untuk berdagang (wirausaha), walaupun tanpa modal.

Memang bisa berdagang (wirausaha) tanpa ada modal, minimal modal awal?

Bisa sekali. Begini ceritanya. Kebetulan kampung halaman saya yang berjarak sekitar 60 KM dari kota tempat saya kuliah, adalah daerah penghasil beras dan sayur-sayuran. Biasanya kebutuhan sayuran dan beras di kota tempat saya kuliah, pasokan utamanya dari daerah kampung saya. Khusus untuk beras, malah orang-orang di kota tempat saya kuliah itu, terutama yang berpenghasilan menengah keatas, lebih suka membeli beras yang berasal dari kampung saya. Karena beras dari kampung saya tersebut terkenal gurih, enak dan mantap rasanya. Apalagi kalau beras yang kualitas super, akan selalu teringat dan terasa di lidah orang yang pernah mencicipinya.

Maka dari itu, otomatis harga beras dari kampung saya lumayan jauh lebih mahal dibanding beras dari daerah-daerah penghasil beras lainnya. Namun anehnya saat saya survei ke petani dan pengusaha penggilingan padi di sekitar kampung saya, harga penjualan mereka kepada tengkulak, pedagang dan distributor, terlihat sangat rendah dibandingkan harga jual (eceran) di kota tempat saya kuliah. Padahal jarak antara kota tersebut dengan kampung saya, tidak terlalu jauh, cukup 2 jam perjalanan santai.

Pernah para petani dan pengusaha penggilingan mencoba menjual sendiri berasnya ke kota, namun rata-rata mereka mendapatkan pengalaman pahit dan malah jadi rugi akibat dipermainkan oleh pedagang setempat. Tak jarang petani kadang membawa pulang kembali berasnya karena tidak menemukan pembeli dengan harga yang pantas. Sepertinya perdagangan beras di kota tersebut, kemungkinan dikuasai oleh beberapa oknum pedagang dan distributor yang kelihatannya kompak.

Parahnya lagi, karena sebagian besar petani beras di daerah saya tidak mempunyai daya tawar dan pilihan lain, para tengkulak atau pedagang tersebut, tidak langsung membayar tunai beras yang sudah dikumpulkannya dari petani. Biasanya dan kata petani di daerah saya, memang sudah dari dulu begitu, kecuali kalau stok beras sedang menipis, baru mereka mau membayar tunai. Jadi, misalnya beras petani dibawa dulu satu truk (misal 2 ton), maka sebulan lagi baru dibayar, dengan ketentuan petani harus menyediakan kembali 2 ton beras (hutang lagi) untuk kebutuhan bulan depannya dari pedagang tersebut. Begitulah seterusnya, dan sudah tradisi.

Nah, dari hal itulah akhirnya timbul naluri dagang (wirausaha) saya. Saya penasaran dan mencoba menyelidiki kondisi pasar, hampir setiap hari sepulang kuliah, saya mendatangi para pedagang dan distributor beras di kota tersebut. Alasan saya kesana adalah menawarkan beras yang saya bawa dulu contohnya sekitar seperempat kilogram yang saya masukkan kedalam plastik. Kalau harganya cocok, baru saya bawa berasnya sesuai jumlah yang diminta.

Sebelumnya saya sudah sepakat dulu dengan petani dan pengusaha penggilingan padi di kampung saya. Yaitu, kalau saya bisa mencari pembeli di kota, maka saya bisa membawa dulu beras mereka maksimal 2,5 ton tanpa perlu membayar, asalkan setelah berasnya saya jual (pasarkan) di kota, hari itu juga harus saya bayar tunai. Kalau saya tidak sempat balik ke kampung karena kuliah, uangnya bisa dititipkan ke pemilik mobil / truk yang nantinya saya sewa untuk mengangkut beras tersebut ke kota tujuan.

Namun anehnya, setelah 2 minggu lamanya saya keliling dan mendatangi berulang-kali para distributor-distributor tersebut, belum pernah sekalipun terjadi kesepakatan jual-beli. Mereka selalu menawar dengan harga jual petani di kampung, entah dari mana mereka tahu harga di tingkat petani tersebut. Atau kalau pun ada distributor yang mau membeli dengan harga yang lumayan pantas, rata-rata dihutang yang pembayarannya sebulan setelah beras dikirim, dengan syarat harus mengirim kembali beras sesuai dengan jumlah yang dikirim bulan lalu.

Maka tidak mungkin saya bisa memenuhi semua pilihan tersebut. Lagi pula saya tidak mempunyai modal untuk menalangi dulu. Jangankan modal talangan, modal dasar saja saya waktu itu tidak punya, kecuali modal buat biaya hidup yang saya dapatkan seminggu sekali dari keluarga dan saudara-saudara saya.

Tapi saya tidak langsung patah semangat, malah saya jadi penasaran, karena saya yakin beras dari kampung saya banyak diminati kok, pasti ada yang salah, dan pasti ada celah dibalik itu.

Setelah seminggu lebih saya mencari celah dan peluang sambil putar otak, akhirnya saya dapat ide bagus. Kenapa tidak saya tawarkan saja ke orang-orang atau pedagang yang biasa membeli beras ke distributor tersebut. Kalau perlu langsung ke pengecer dan warung-warung, serta ke pemakai langsung seperti restoran dan rumah makan, pemilik catering  dan kalau perlu saya jual langsung ke komplek-komplek perumahan.

Setelah melalui berbagai rentetan perjuangan dan setelah 6 bulan usaha dagang beras saya tersebut berjalan, para distributor, agen, tengkulak dan pedagang di kota itu, tidak bisa seenaknya lagi sama saya, dan tidak leluasa lagi mempermainkan petani di kampung saya.

Note: Ulasan panjang ini hanya sekedar berbagi pengalaman, bukan untuk menggurui , apalagi untuk membanggakan diri.

Ilustrasi gambar dari: Sini

Tags: bisa | modal | tanpa | wirausaha

Sekelumit Kisah Bisa Berwirausaha Tanpa Modal Uang
Berhubungan Dengan :
Karena saya tidak punya wewenang untuk memanggil kedua pimpinan lembaga yang sedang berseteru, maka sudah pasti saya tidak
  Beberapa hari yang lalu tepatnya Rabu (9/11/2011, dalam rapat kabinet terbatas mengenai Papua, Presiden Susilo Bambang
Euro 2012 resmi dibuka   Puluhan ribu pasang mata yang memenuhi Stadion Nasional Warsawa, benar- benar meriah. Pianis ko

Add comment


Security code
Refresh